Bagaimana Kau Mampu Menolak Sampar?

Oleh Junior Zamrud Pahalmas
SAMPAR - Rebut Kembali Hidup
Dirilis oleh Spektakel Klab & Klab Pencuri Gambar
Musik Oleh Sampar
Lirik Oleh Sampar
Gitar lainnya oleh Bagus
Rekaman, Mixing & Mastering oleh Jimi Delvian
Cover art oleh Kolasoke

Mengawali paragraf pertama ini, cepat-cepat saya melemparkan pertanyaan, dalam catatan, saya dengan sengaja pula menggunakan judul esai yang memiliki nilai dialektika, Mungkin, demi esai ini dibaca, lebih menarik perhatian pembaca. Namun saya coba mengingatnya berulang kali, adakah yang bisa menolak apa yang tengah disampaikan oleh Sampar? Sadarnya proses coding-endcoding pesan dari mereka sangatlah metodik pada pemilihan diksi hingga karya kolase yang digunakan di dalam sederhananya telaah tanda yang mengalun dalam penyajian, lirik dari Montaza O Ki, ditemani Bagus McHudson membalut halus irama akustik pada lagu ‘Rebut Kembali Hidup’.

Mereka adalah Sampar, sebagai musik akustik kolaboratif diantara Montaza O Ki dan teman-temannya. Semacam pola-pola kerja partisipatif sebuah kolektif. Ia membangun Sampar diantara prosesnya memahami makna hidup. Kata makna hidup sering kali saya gunakan pada prolog yang saya tulis, di perhelatan Eksebisi Tunggal Karya Kolase dan Musik oleh Montaza O Ki dengan tajuk yang sama, Rebut Kembali Hidup. Sekaligus menandai hari rilisnya lagu tersebut.

Lagu ini bagai ode dalam perjuangan kelas. Saya coba pelan-pelan memahami, mengartikan apa yang saya pikirkan. Saya merunutkan, lagu ini diciptakan sekitar tahun 2012, sebagai nyanyian Montaza O Ki dan teman-teman di teras rumah. Ia menulis lagu jauh dari tahun perilisisannya September 2019 ini, namun tidak jauh berbeda pada aransemen musiknya. Lagu ini, tenang yang menantang. Ada sosok tangguh dari warna suara yang di dengar, seperti enggan menyerah. Mengajak pendengarnya untuk menolak tunduk, walaupun kalimat menolak tunduk sudah sering kita dengar atau baca, merasa biasa saja.

Mendengar lirik milik Sampar, pemilihan kata yang kental muatan surealis Paris 68, juga ia akui sebagai collage artist dengan nama Kolasoke. Montaza O Ki berproses dalam nuansa punk yang banyak memperkenalkan dirinya pada tradisi kritis dalam ilmu pengetahuan. Mungkin saja bisa sangat ideologis, namun itu tergantung pada apa yang dipahami tiap terminologinya.

Saya coba membaca lirik Rebut Kembali Hidup pada kaca mata wacana yang ia bangun, sangat konstruktivis. Montaza O Ki menulis lirk dengan gaya surealisme, disemat pengandaian hidup, “dari lahir dan kematian, kita dimonitori.” Ia menyusun kalimat tersebut; lalu membandingkan antara lahir sebagai kehidupan dan mati adalah sebuah akhir; sedari awal hingga akhir; hidup ini di posisikan; di tata letakkan; di tunjukkan; di atur hingga akhir.



Kesatuan dari lirik Rebut Kembali Hidup mencerminkan tanda insureksi sebagai perkenalan. Sampar mengawali musik dengan kalimat lirik:

“Mangkuk yang ada di tanganku, kan kuberikan kepadamu, agar dapat kau merasakan, air yang tlah ku minum”

Penggunaan kata ‘mangkuk’ penanda wadah berisi air, yang akan diberikan kepada orang-orang terdekat dengan penegasan menggunakan akhiran ‘mu’. Seperti tanda kedekatan emosional, dalam kalimat lirik “agar kau dapat merasakan”, dan mengalir pada “air yang tlah ku minum” yang multi-tafsir. Keberadaan yang sangat imajinatif, upaya menggapai apa yang berada di awang-awang. Apakah tegukan ini diartikan baik atau buruk?

Ia cepat-cepat memberi tahu hal lainnya pada lanjutan kalimat lirik dengan kemasan apa yang telah kita jalani setiap harinya sebagai manusia dengan perspektif kritis:

“perihal hidup tersusun rapi, dalam kotak-kotak penuh ilusi. Dari lahir dan kematian, kita dimonitori”

Jauh kemana kita akan menafsirkan padanan lirik yang dihadirkan oleh Sampar, saya cukup penasaran pada senyap-senyapnya kehadiran hyper-reality dan simulacra yang terasa. Sampar mesimulisasikan manusia mendiami ruang realitas, dimana perbedaan antara yang nyata dan yang semu, yang asli dan yang palsu sangtalah tipis. Apakah hidup yang kita jalani adalah penuh dengan kesadaran? Bahwa apa yang kita hidupi hanya menceriminkan realitas dibandingkan dengan yang sesungguhnya?

Novelis Italia, Umberto Eco mencontohkan hyper-reality ketika mengunjungi Disneyland dan Disneyworld di Amerika, ia menyebut tempat/kota itu adalah benar-benar penuh kepalsuan. Ia mendapati tempat-tempat tersebut sebagai hal yang megah, bersinar, begitu menghibur dibandingkan dengan kehidupan sehari-hari. Ketika ia dengan perahu dan melewati sungai buatan Disney, ia melihat sekumpulan ikan-ikan kecil animasi yang tampak begitu nyata. Namun di lain hari ketika ia berlibur di sungai Missisipi, justru ia dikejutkan dengan adanya buaya disana. “Disneyland mengatakan pada kita bahwa teknologi dapat memberikan realitas dibandingkan dengan alam yang sesungguhnya.” Hal ini lah yang kemudian diartikan sebagai simulacra, sebuah dunia yang terbangun dari banyaknya suatu nilai, fakta, tanda, citra, hingga kode. Simulasi ini sebagai proses yang mendorong lahirnya hyper-reality, dimana tidak ada lagi yang lebih realitas sebab yang nyata tidak lagi menjadi rujukan, namun rangkaian fase citraan yang berturut-turut.

Baudrillard menjelaskan hyper-reality sebagai citraan, refleksi dasar realitas, menutupi dan menyelewengkan dasar realitas; menutupi ketidakadaan realitas; melahirkan ketidakberhubungan pada berbagai realitas apapun, dan sebagai kemurnian simulacra itu sendiri [1].

Ketika kita mendegar Rebut Kembali hidup, jelas ritme itu dibawa dari keadaan tenang yang penuh dengan pertanyaan. Terlebih, bertanya dengan cara menantang yang tenang. Bermain-main pada ranah bawah sadar. Itu pula yang ditanyakan dalam lirik:

“Bagaimana kau bisa lepas dari kendali yang memenjara? Bagaiamana kau menjalani hidup tanpa di gembala? Bagaimana kau bisa? Bagaimana kau mampu? Bagaimanapun, esok…tirani harus tumbang.”

Saya pikir, keseluruhan bagian kata pada kalimat lirik ini begitu kuat, dengan berulang kalinya bertanya, bagaiamana caranya? Mungkin kah? Apakah mampu? Dengan pernyataan tolak, menekankan kata ‘harus’ lalu menyambung dengan kata ‘tumbang’, dengan kasih sayang ‘tirani harus tumbang’. Upaya ini demi mengingatkan pendengarnya, menghitung ulang apa yang tengah terjadi pada dunia yang kita hidupi sampai hari ini. Serupa teman dekat yang sedang mengingatkan.

Sampar coba meyakinkan kita bahwa masih ada cara atau metode dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan hidup. Menyederhanakan itu dengan sungguh-sungguh meyakinkan pendengar:

“Sesungguhnya engkau, bisa saja menghindar. Sesungguhnya aku, mampu untuk berlari. Sesungguhnya kita mampu untuk bertahan. Sesungguhnya… sesungguhnya… sesungguhnya… sesungguhnya...”

Tanda sebuah keyakinan, ada metode perlawanan yang bukan hanya menerima begitu saja, ada banyak cara untuk siapapun, pada upayanya menjawab setiap pertanyaan tentang tantangan hidup. Sampar mengajak kita terlibat aktif dalam posisi merebut apa yang seharusnya kita ketahui, kita konsumsi, apa yang akan kita jalani. Caranya yang lirih menyampaikan lirik, ‘sesungguhnya’ kita bisa, kita mampu. Pada penghujung menandai sikap:

“Rebut kembali hidup…rebut kembali hidup.”

Musik yang dihadirkan oleh Sampar kuat akan struktur skematik dalam menggambarkan bentuk umum dari suatu teks, bertransformasi pada nada, melahirkan musik akustik, yang cermat menyusun dengan sejumlah pembagian umum, seperti pendahuluan (cara memulai musik dan lirik), isi, kesimpulan, pemecahan masalah, dan penutup. Memaknai arti hidup yang muncul dari hubungan antar kalimat, hubungan antar proposisi yang membangun pengetahuan dalam bangunan lirik. Setiap kata yang mewakili kalimat bahasa yang digunakan Sampar adalah sarana gaya bahasa perlawanan, sebagai topik inti gagasan.

Nada, tanda dan kata, bentuk simbol yang dikedepankan Sampar menguatkan tema lagu yang berlatarkan keadan sosial, keutuhan lirik diintepretasikan pada sebuah percakapan, mengajak untuk ikut mencicipi air pada mangkuk yang telah ia minum. Memberikan konsep keseluruhan pada format demo lagu, melihat kolase pada cover lagu yang juga penuh nilai intrinsik, harkat yang dimiliki dari nilai yang tertera di atasnya. Saya menaruh perhatian pada objek gambar serta pemilihan warna sebagai latar objek.yang mana Montaza O Ki berperan sebagai Kolasoke.

Pelan-pelan juga, saya menyusun silogisme pada konsep musik akustik Sampar secara keseluruhan. Mereka kuat akan tradisi kritis dalam ilmu pengetahuan, seperti yang telah saya katakana sebelumnya. Tafsiran saya pada telaahan tanda dan simbol objek gambar cover lagu ini sarat akan kajian gender, “bagaikan perempuan yang tengah menari bebas”, dengan batang rokok di tangan kanannya. Gambar ini dicuri oleh Kolasoke dalam proses kreatif yang melahirkan karya seni kolase, judulnya ‘Jalan Tanpa Tuan’ (2013). Ia menghadirkan kontradiksi dalam pengalaman empiris manusia dibawah konstruksi sosial yang berlaku, memaknai sebuah kebebasan. Meronanya merah sebagai warna dominan dan terselip pola garis bertekstur hitam, sangat terminologis. Kita semua bebas mengartikan keseluruhan gambar dari karya kolase seorang Montaza O Ki.
Photo dari Arsip SAMPAR oleh AnggunPSI


Saya mengingat apa yang pernah di tegaskan oleh Simone de Beauvoir dalam bukunya The Second Sex. Pernyataan de Beauvoir yang menyadarkan pembaca bahwa menjadi manusia bebas adalah menjadi subjek dalam kehidupan [2]. Pernyataan de Beauvoir menggabarkan bagaimana perempuan dari awal mendeskripsikan dirinya berdasarkan standard laki-laki. Ketergantungan perempuan terhadap laki-laki menjadikan perempuan selalu sebagai objek dalam kehidupan. Pengobjekan perempuan ini yang menjadikan perempuan tidak menjadi manusia bebas dan selalu berada di bawah “tangan laki-laki.” Sehingga kemudian disebut sebagai “the Other” yang menjadi seks kedua, dibawah laki-laki [3]. Pandangan seperti ini menjadi awal mula subordinasi dan marginalisasi terhadap perepuan.

Apa yang dihadirkan Sampar dengan sendirinya memaparkan fakta sosial yang ada pada relasi gender -hubungan transformasi-transformasi kekuasaan- yang kaya akan isu ekonomi, sosial dan politik, sangat filosofis. Militansi dalam bentuk beragam karya seni kuat dihadirkan, ini bukanlah semata-mata menyalurkan bakat yang turun dari langit. Ada banyak isu dan wancana yang dengan sengaja ia bagun, sejalan dengan ilmu pengetahuan.

Ada catatan tambahan yang saya rangkum pada lagu ini. Jika boleh, saya menyarankan untuk mendengar tembang Rebut Kembali Hidup milik Sampar pada waktu sore hari, dalam perjalanan pulang setelah bekerja, mungkin, atau sebagai pengantar lelap di penghujung malam. Saya merasakan, Sampar adalah medium komunikator terhadap komunikan yang saling tegur sapa diantara naik turunnya persoalan hidup, Saling mengingatkan, saling menguatkan, untuk merebut kembali hidup.


--------------------------------------------
Daftar Pustaka:
[1] Simulasi Realitas Sosial Melalui New Media. Jurnal Pekommas, Vol 2 No. 1, April 2017: 75-86.
[2] Hanum, Farida. 2018. Kajian & Dinamika Gender. Malang: Intrans Publishing.
[3] Ibid.