Manusia dan Konsumsi

Oleh FNB Palembang

Dalam sistematika pasar, manusia yang kemudian akan di katakan sebagai entitas (satuan yang berwujud) jika ia melakukan sifat-sifat dari transaksional. Suka atau tidak, lingkar budaya konsumsi atas kesenangan, kepuasan dan kebahagiaan hidup ditentukan oleh seberapa banyak barang yang di konsumsi, dan menjadi konsumerisme. Sembari kita mengingat saat Maslow melakukan observasi terhadap perilaku monyet, yang dikemudian hari ia jabarkan tentang konsep hierarki kebutuhan dasar manusia. 

Maslow pernah mengatakan, kebutuhan paling mendasar pada setiap manusia adalah kebutuhan fisiologis, yaitu kebutuhan untuk mempertahankan hidupnya secara fisik (sandang, pangan, papan). Manusia yang haus akan termotivasi untuk minum, dan seterusnya. Manusia akan mengabaikan hal lain sebelum melepas dahaga akan haus, artinya manusia akan menggapai kebutuhan fisiologisnya terdahulu hingga terpuaskan. 


Pada tatanan masyarakat yang mapan, kebutuhan untuk memuaskan rasa lapar/haus adalah gaya hidup, karena dapat dikatakan sudah memiliki kecukupan makanan/minum. Namun, ketika berkata lapar/haus, maka yang dituju adalah cita rasa makanan/minuman yang akan ditentukan dalam memuaskan kebutuhannya. Seseorang yang sungguh kelaparan tidak akan begitu peduli pada rasa, bau, dan tekstur, hingga temperatur pada objek pemuas kebutuhannya, berupa makanan/minuman. 

Kesenangan dan memuaskannya budaya konsumsi mendorong aktualiasasi diri sebagai kebutuhan pembuktian yang menunjukan diri sebagai manusia utuh pada lingkungan hidup. Manusia mengembangkan semaksimal mungkin segala potensi yang dimilikinya demi kebutuhan yang tidak melibatkan keseimbangan, tetapi melibatkan keinginan yang terus menerus untuk di puaskan. Kebutuhan ini sebagai hasrat untuk semakin menjadi diri sepenuh kemampuannya dengan cara konsumsi. 

Kita tahu, konsumsi tidak hanya melulu soal pangan, selain sandang dan papan, apapun telah merujuk pada perilaku konsumen. Sebagai konsumen, kita jarang memikirkan produk-produk yang kita konsumsi memiliki dapak dari sebarapa banyak yang telah dikonsumsi dan memiliki pengaruh pada lingkungan, baik itu material maupun non-material. Lalu, terbuai akan kemasan iklan demi opini publik. 

Budaya konsumerisme menggiring manusia pada keyakinan bahwa hidup untuk membeli dan memiliki aneka barang konsumsi, meski barang-barang itu belum tentu kita butuhkan. Keberadaan manusia sangat ditentukan oleh perilaku konsumsi; apa yang dipakai dan apa yang dimiliki. Apa yang kita konsumsi bukan pada fungsi dan manfaatnya, melainkan pada bagaimana barang yang dikonsumsi itu menafsirkan cirta, mengontrol status sosial, serta mendongkrak harga diri, karena yang ditekankan adalah pada wujud kemasan sebagai kultus dari budaya konsumerisme, bukan pada isi. Kebahagiaan justru hanya bisa dicapai jika semakin banyaknya membelanjakan uang dan semakin banyaknya memiliki barang konsumsi. 

Definisi konsumsi tidak lagi sesederhana memanfaatkan nilai guna barang untuk bertahan hidup, namun menjadi sebuah motif utama dari penggerak realitas diri. Eksistensi dan pengakuan menstimulasi hasrat manusia pada barang konsumsi yang melampaui nilai guna barang konsumsi. Belanja, sudah lama menjadi ekstase kehidupan berbudaya dan dipelihara oleh sistem pasar yang berlaku. 

Masyarakat konsumtif bukan lagi menjadi perilaku berbudaya yang aneh dalam tatanan sosial manusia karena secara mendasar, esensi kehidupan telah dibentuk atas pemenuhan kebutuhan hasrat nan kompetitif, dengan tujuan pembuktian keberadaanya sebagai manusia yang diukur dari perilaku konsumsi. Mari, tanyakan pada diri sendiri atas apa yang telah kita konsumsi sampai hari ini?

------

Tulisan ini pertama dirilis oleh FNB Palembang di Tabling mereka sekaligus bertepatan dengan Hari Tanpa Belanja 29 November 2019. Versi layout lifflet bisa didownload disini

Tulisan tentang Hari Tanpa Belanja bisa dibaca disini