Realisme dan Profesi Polisi

Oleh Sabda Armandio


Bagi anda yang membaca tulisan ini segera merapat ke dinding, angkat tangan, dan jangan membuat gerakan mendadak atau saya tembak. Dor. Hehe. 

Saat Tempo mengabari Dekat dan Nyaring masuk nominasi, saya sedang membersihkan rambut-rambut Labu, kucing saya, yang menempel pada karpet. Saya menaruh lakban hitam di atas meja, lalu mengabari teman dekat. Dia senang sekali, dan bertanya: apakah saya senang juga? 

Tadi pagi, ternyata Dekat dan Nyaring terpilih sebagai Prosa Pilihan Tempo 2019[1]. Saya semakin heran. 

Perasaan senang tentu muncul, sebuah media besar dengan reputasi baik mengapresiasi hasil kerjamu dan kau tidak bisa tidak bahagia mengetahui hal itu. Namun, perasaan heran lebih mendominasi. Menurut saya novel terbaik tahun ini mestinya jatuh pada Orang-Orang Oetimu: Felix tidak hanya memuat apa yang ingin saya sampaikan dalam Dekat dan Nyaring, Felix benar-benar melihat dan mengalami keajaiban yang dilakukan negara[2]


Saat menulis Dekat dan Nyaring, saya tidak pernah berharap kekerasan polisi mengalami peningkatan seperti sekarang ini. 

Pada akhir tahun lalu, Tempo memuat edisi khusus Tokoh 2019 untuk massa aksi gerakan Reformasi Dikorupsi[3]. Anda bisa menyebutkan beragam aksi yang terjadi di Indonesia dan membanding-bandingkannya—dari kesuksesan, jumlah massa, dan sebagainya dengan Reformasi Dikorupsi—tetapi anda mengerti bahwa gerakan Reformasi Dikorupsi adalah penanda penting bahwa kondisi negara anda tidak baik-baik, dan menjadi penanda bagi generasi baru, para pelajar yang ikut kemarin tidak datang dari dalam stoples acar. Bagi anda yang sudah cukup dewasa pada 1998, barangkali, tidak merasa terkesan atau malah merasa leluasa mengkritisi gerakan kemarin. Namun, bagi kami yang 21 tahun lalu masih bocah atau malah belum lahir gerakan massa aksi kemarin menjadi peristiwa penting, setidaknya gerakan massa itu menyadarkan kami pada keajaiban-keajaiban ini :
  1. Negara, melalui pemerintahan yang sah, secara sadar mencederai demokrasi 
  2. Oligarki bukan jenis makanan ringan 
  3. Massa didesain untuk tetap berada di bawah, mereka tidak akan dibiarkan menyentuh pemerintah 
  4. Polisi kebal terhadap segala jenis akuntabilitas 
  5. Reformasi Dikorupsi bukanlah kekacauan dalam sistem, ia adalah bagian dari sistem yang bermasalah. 


Polisi Bukan Pahlawan, Ia adalah Profesi 

Pada suatu hari, kata sahibul hikayat, ada sebuah sistem keadilan yang membagi orang-orang menjadi dua kelompok: polisi sebagai penjaga dalam proses pembuatan kebijakan dan orang-orang yang dikriminalisasi, dicap pembangkang, lalu diangkut ke pengadilan. 

Posisi polisi memungkinkan institusi ini untuk membuat seolah konflik vertikal cuma dongeng, sebab anda warga akan selalu ribut dengan sesama warga. Ia memunculkan ilusi bahwa negara ada untuk melindungi, dan pemerintah selalu berisi orang-orang terpilih yang akan berbuat yang terbaik bagi masyarakat. 

Malatesta (atau NWA yang liriknya homofobik dan misoginis) pernah bilang: Polisi jahat. 

Saya selalu berharap masalah polisi adalah secara personal, sebagai manusia, mereka jahat. Masalahnya akan jauh lebih gampang: tinggal pecat atau—meminjam istilah mereka—didisiplinkan dan ganti dengan polisi yang lebih baik. Sialnya, ini tidak ada kaitannya apakah mereka orang baik dan suka menolong dan kepala keluarga yang sayang anak dan akan masuk surga. Masalahnya, seperti yang kita ketahui bersama, adalah polisi sebagai institusi. 

Saya tidak menganjurkan anda untuk memukuli polisi beramai-ramai, atau memburu mereka seperti hobi orang abad pertengahan. Saya kira cukup jelas bahwa yang bisa dilakukan polisi adalah memperbaiki institusi mereka. Bukan dengan membuat acara polisi di televisi—itu cuma menunjukkan kalau mereka tidak makan gaji buta, bukan pula dengan mengganti logo dengan vektor yang lucu dan tampak bersahabat, atau bikin iklan dengan pendekatan yang manusiawi. Saya kira, ada yang lebih bermanfaat, misalnya dengan mencopot semua privilege yang dimiliki polisi hari ini, dan menjadikan mereka institusi yang lebih egaliter? 

Polisi sudah dan, selama mereka tidak memperbaiki institusinya, akan selalu bertindak sebagai perpanjangan tangan kapital, atau negara, untuk menghukum orang yang melanggar hukum yang didesain untuk mencegah masyarakat terlalu cerewet kepada pemerintah sebagai pembuat hukum. Tidak hanya sampai di situ, polisi adalah sekelompok orang yang memegang kekuasaan penuh di tengah masyarakat, dan ini yang horor. 

Dengan privilege yang mereka miliki hari ini, mereka boleh asal tangkap dan memaksa orang mengaku salah. Contoh paling dekat adalah pengakuan pengamen korban salah tangkap[4]. Kontras mencatat setidaknya ada 51 kasus salah tangkap dalam kurun setahun, Juli 2018-Juli 2019 dan LBH Jakarta mencatat ada sebanyak tujuh kasus selama periode 2018-2019. Pun, termasuk kasus salah tangkap yang saat ini masih ditangani pihak LBH Jakarta. 

Mereka juga bisa menembak warga secara tidak sengaja[5], menembak dan menabrak[6] mahasiswa, memukuli transgender[7], menghilangkan nyawa sendiri[8], menyiram orang[9] dengan air keras, menyerang dan memukuli orang-orang di area pemukiman[10] dan menganggapnya seperti ladang perang dalam kota. Anda tentu lebih tahu banyak soal ini, dan bisa ikut menambahkan. 

Kalimat khas polisi adalah: kalau nggak salah ya nggak perlu ada yang disembunyikan. Di sisi lain, Jurnalis Tirto kesulitan[11] meminta data kepada polisi. Apakah ada yang sedang disembunyikan? 

Dan polisi selalu bisa keluar dari masalah-masalah seperti ini karena, saya curiga, sebagian dari kita menganggapnya pahlawan. Kita merayakan betapa kerennya polisi lewat acara-acara televisi, good cop versus bad cop, dan acara komedi situasi? Saat mereka mampir ke warung kopi, mereka dihadiahi sebungkus rokok gratis—pemadam kebakaran juga pahlawan, tapi kenapa tidak dapat rokok gratis juga?— Hingga pada satu titik, barangkali, kita menganggap kekerasan yang dilakukan polisi tak ubahnya melihat semut di dinding. Dan kita diam-diam menyetujui ujaran Wiranto: Polisi sama sekali tidak bermaksud membunuh. 

Kalau sudah membawa-bawa ‘maksud’ memang cukup repot menyelidikinya. 

Polisi juga senang sekali menggunakan kata ‘mengamankan’ untuk mencegah ‘kekerasan’ yang mungkin akan terjadi bila tidak ada polisi. Enrico Malatesta, pemikir asal Italia, berkata bahwa kekerasan adalah esensi dari kekuasaan. Polisi membawa bibit kekerasan itu di dalam dirinya. Malatesta juga mengkritisi kapitalisme karena, sepanjang sejarahnya, kepemilikan pribadi mengamankan posisinya dengan menggunakan kekerasan secara legal maupun ilegal (Malatesta, Errico. 2005. At The Cafe, hal. 47). Malatesta tentu saja tidak naif, ia tahu bahwa mereka yang diuntungkan dengan ‘kekerasan yang legal’ akan dengan susah payah mempertahankan institusi legal ini untuk mengamankan posisi. Ia juga menekankan bahwa pasifisme a la Tolstoy cuma membiarkan kemanusiaan tergerus, dan anteng melihat manusia menderita tanpa melawan (Malatesta, Errico. 2014. The Method of Freedom, hal. 203). Malatesta membicarakan topik ini hampir seratus tahun lalu, dan kita masih melihatnya hari ini. Terutama, beberapa bulan belakangan. Menurut saya ini lucu. 


Penutup 

Jika kita sepakat masyarakat masih perlu polisi, mereka harus kembali pada makna profesi, professio, janji publik. Sebab, semestinya, di dunia ini tak ada profesi yang pekerjaannya adalah menggunakan kuasa untuk menindas orang lain. 

Sebuah cerita yang dikemas dalam bingkai fiksi bisa menjadi medium yang baik untuk memberi kita pemahaman tentang apa yang terjadi di masa lampau dan dampaknya pada hari ini, dan Orang-Orang Oetimu adalah contoh terbaik yang tersedia saat ini. 

Pada tahun yang akan datang, semoga semakin banyak Orang-Orang Oetimu lain: dari kawan-kawan di luar Jawa, dari kawan-kawan perempuan penulis, dari orang-orang yang dipaksa mengalah setiap hari, dari pekerja yang ingin lingkungan kerjanya lebih manusiawi, dari keinginan yang mungkin agak naif tetapi menyalakan keberanian kita setiap hari: ada hari di mana manusia bisa duduk tenang tanpa memikirkan lembur yang tidak dibayar atau kebakaran hutan atau pemanasan global atau kemungkinan dipukuli polisi. Dan kita bisa bersama-sama menuliskannya dalam cerita fiksi yang asyik, mungkin ia tidak bisa mengubah situasi tetapi ia bisa menjadi pengingat yang baik. 

Realisme yang saya pahami adalah metode menemukan bentuk cerita dan bahasa baru untuk menerjemahkan luka kehilangan dan kenelangsaan pada masa silam sebagai pengingat pada masa kini untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa depan. Bukan untuk membalas dendam, bukan pula untuk membenci siapa pun. 

Saya, sebagai bagian dari masyarakat, tentu tidak ingin melihat polisi di masa depan memberangus manusia menggunakan lakban hitam seperti cara saya membersihkan rambut kucing. 


***